Menunggu

Standard

Surai hitam tertiup angin. Pemilik surai bahkan tidak peduli akan angin yang bertiup melewati pipi mulus nan pucat miliknya. Sepi…

Dingin. Sendirian. Apa lagi? Hatinya menjerit. Menangis. Kesepian.

Menunggu.

Menunggu.

Menunggu.

Itulah yang dilakukan gadis itu. Gadis mungil dengan syal abu-abu di lehernya.

Di stasiun kereta yang ramai, terasa sepi. Karena ia sendiri. Sendiri, bukan sendirian.

Satu kereta berhenti, tiap pintu ia amati. Begitu seterusnya.

Tidak, tidak ada. Ah, bukan… belum ada. Pikirnya sambil menjelajah tiap manusia yang keluar melalu pintu kereta.

Ia merasakkan matanya basah. Tidak, tidak, jangan menangis, bodoh! Ia memberikan sugesti pada dirinya sendiri.

Belum tampak juga pria dengan rambut ikal, kulit putih, berkaca mata, dengan pakaian sederhana.

Ia sempat berpikir bahwa pria itu telah berubah, atau mungkin tak datang? Atau yang terburuk… melupakannya?

Ia menggeleng. Ia buang jauh-jauh pikiran itu. Diteguknya segelas air mineral yang ia beli beberapa waktu lalu. Volume botol lama kelamaan berkurang. Nikmat sekali.

Lantunan lagu dalam playlist iPod-nya sudah terulang beberapa kali, namun, belum, ya, belum. Hanya itu yang ia yakinkan di dalam benaknya. Belum dan akan segera datang.

Figur seorang kakak yang gentleman. Yang belum ia lihat lagi rupanya sejak… kurang lebih empat tahun? Gadis itu membayangkan bagaimana rupa pria itu sekarang. Pria yang ia akrab panggil, “Onii-chan“. Well, memang bukan kakak kandungnya.

Onii-chan…,” Ia bergumam kecil.

Sudah tiga jam ia duduk di ruang tunggu stasiun kereta. Belum, belum ada. Segera ada.

Kakinya ingin sekali meninggalkan tempat ramai itu, tetapi tak mau beranjak. Seperti sudah diberi perekat pada kakinya. Aneh. Rindu? Entahlah.

Ia memilih untuk mengingat-ingat ketika mereka masih kanak-kanak…

Onii-chan selalu melindunginya. Mengajarkannya banyak hal, Bermain game bersama. Membaca komik bersama.

Tawa getir terdengar. Ah… apakah Onii-chan masih sama?

Menunggu.

Menunggu. 

Menunggu.

Dua jam lagi berlalu. Ah, sudah total lima jam ia menunggu. Orang tua gadis itu sudah sibuk mengirimi email, menanyakan di mana dia– sudah khawatir.Ia memantapkan hatinya. “Baiklah… akan kutemui lain waktu saja.”

Kaki kecilnya sudah bediri, ia bersiap untuk kembali ke rumahnya, sebelum sebuah kereta lagi berhenti. Ia tetap mengamati tiap pintu; namun hasilnya nihil. Onii-chan tidak– ah, belum ada. Masih saja menunggu?

Satu langkah.

Tiga langkah.

 

Lima langkah.

Tujuh langkah.

Sepuluh langkah dan–

–ah! Ia menabrak seseorang… yang lebih tinggi.

Gadis itu bersuara, “Maaf…,” perlahan ia mengangkat kepalanya untuk menatap orang yang ia tabrak.

Bibirnya sedikit membulat, matanya membesar, “Onii-chan?”

Has been a long time, ne, Boku no Otouto?” It’s him. It’s Onii-chan! Mudah untuk mengenali pria sederhana itu.

Onii-chan memang telah berubah, well, hanya secara penampilan. He seems taller. And his hair grows messier.–

–But  one thing remains; the same gentle smile.

“Aku sudah menunggu… Yanno?” Sedikit menggembungkan pipinya.

Senyum maaf terlihat dari bibir Onii-chan. “Kau masih menyimpannya? Keychain yang terakhir kali kuberikan.”

Gadis itu menangguk semangat. Menunjukkan tasnya, dan, keychain-nya ada di sana.

“Ah… Kau menjaganya, Otouto.”

“Tentu saja!”

WUSH

Angin bertiup lagi.

It’s pretty cold, isn’t it?Onii-chan melepas jaket berwarna kuning yangg ia pakai dan memakaikannya pada gadis itu. Tentu saja gadis itu mengenal jaket itu dengan baik.

Masih disimpan saja, pikirnya.

Ah, shall we go now?” Onii-chan mengulurkan tangannya. Gadis itu mengangguk kecil dan tangan mereka bertaut.

Tak butuh waktu lama sampai punggung mereka beruda tak terlihat lagi di stasiun yang ramai itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s